Di Kp. Ciloa RT 02 RW 01, Desa Mekarwangi, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, terdapat sebuah potensi kuliner tradisional yang sudah bertahan lebih dari satu dekade, yaitu usaha ranggining milik Ibu Eppah. Usaha rumahan ini menjadi bukti bahwa makanan tradisional masih digemari dan mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan jika dikelola dengan tekun.
Usaha ranggining ini telah berjalan lebih dari 10 tahun dan merupakan keterampilan turun-temurun dari keluarga Ibu Eppah. Resep yang diwariskan tersebut terus ia kembangkan hingga kini mampu menghasilkan ranggining dengan cita rasa khas yang banyak digemari pelanggan.Dengan nama merek “Raga Jaya”, ranggining buatan Ibu Eppah memiliki kekhasan tersendiri, baik dari segi rasa maupun bentuknya yang besar dan renyah.
Meski menggunakan peralatan seadanya dan proses yang sebagian besar masih manual, kualitas ranggining produksi Ibu Eppah tidak kalah dengan ranggining modern lain. Produksi dilakukan berdasarkan kebutuhan dan pesanan, namun biasanya meningkat pada momen-momen tertentu seperti musim boboran, saat permintaan naik drastis.
Dalam satu kali produksi, Ibu Eppah mampu menghasilkan sekitar 30 bungkus ranggining. Produk ini juga dikenal tahan lama, yakni 8 bulan hingga 1 tahun, tergantung tingkat kekeringan dan cara penyimpanan.
Pemasaran ranggining dilakukan di wilayah Garut, Ciawitali, dan sebagian besar pembeli datang langsung ke rumah produksi. Selain itu, beberapa pelanggan adalah pedagang yang langsung mendistribusikan ranggining ke berbagai titik penjualan.
Harga ranggining Raga Jaya yaitu:
- Rp12.000 per bungkus (isi 20 biji, tergantung ukuran dan ketebalan)
- Rp35.000 per kilogram
Harga ini masih terjangkau, meski Ibu Eppah menghadapi kendala terkait kenaikan harga bahan baku, yang membuatnya bimbang untuk menaikkan harga jual.
Keunggulan ranggining Ibu Eppah terletak pada penggunaan bahan baku berkualitas serta rasa yang gurih dan tekstur besar yang khas. Hal inilah yang membuat pelanggan terus datang dan menjadikan Raga Jaya tetap dikenal meski bersaing dengan banyak produk sejenis. Usaha ini sebagian besar dikelola sendiri oleh Ibu Eppah. Namun saat pesanan meningkat, ia biasa dibantu oleh anggota keluarganya.
Kendala utama yang dihadapi adalah fluktuasi harga bahan baku, terutama beras sebagai bahan utama pembuatan ranggining. Hal ini membuat Ibu Eppah harus berhati-hati dalam menetapkan harga agar tetap bersaing tanpa mengurangi kualitas.
Ranggining “Raga Jaya” menjadi salah satu potensi unggulan Desa Mekarwangi. Cita rasa tradisional yang terjaga, proses produksi yang masih alami, serta ketekunan Ibu Eppah dalam mempertahankan usaha menjadi alasan mengapa produk ini terus diminati.
Keberadaan usaha seperti ini tidak hanya mengangkat kuliner lokal, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi sekaligus melestarikan warisan kuliner tradisional yang patut didukung dan dijaga.